home profile books socmed others youtube

#SUBSCRIBE

Tuesday, 27 October 2015

Terpaku Tetapi Tidak Dipaku


“Ren, kok lo ngeliat gue begitu?” tanya Siska, mengaburkan lamunan gue. Entah kenapa gue terpaku melihat wajahnya dia. Wajah dia yang lagi sibuk baca buku hitam yang tebal. Buku yang gue sendiri pengin jadiin bungkus gorengan karena banyaknya lembar halamannya.
Setelah itu gue kembali menatap layar laptop gue. Ketika itu gue emang lagi men-copy DVD Thailand gue ke laptop gue. Itu di-copy karena dvd-rom di laptop Siska ternyata gak bisa memutarnya dengan baik. Semua DVD Thailand yang gue beli itu udah dari gue SMA. Karena gue emang suka.
Semua film yang di-copy dari laptop gue, di-paste-kan pada folder Film dari Rendy pada laptopnya. Sengaja gue kasih nama yang gampang diingat untuk folder itu. Salah satu fakta yang gue tau dari Siska: pelupa.
Isi dari laptopnya berantakan. File ini ada di sana, file itu ada di sini, di sana ada file itu, di sini ada file itu juga, file itu juga ada di sini, di sana, di mana-mana, di mana-mana ada file ini itu. Pokoknya berantakan banget deh.

Saturday, 24 October 2015

Jomblo Salah Gebetan









Thursday, 22 October 2015

Entah Ini Bisa Disebut Progress Atau Bukan

Masih ingatkah kalian dengan postingan gue yang ini?

Intinya gue lagi ngedeketin seorang perempuan yang sampai sekarang gue bingung harus lewat jalan yang mana untuk masuk ke dalam hatinya. Karena dia termasuk orang yang tertutup. Dan emang butuh perjuangan yang amat sangat keras. Ah, andaikan gue bisa dengan cepat menemukan jalan masuknya. Teman-teman pembaca blog gue, mohon doanya ya! :))

Mungkin ini nekat. Beresiko. Dan ya.. bisa dibilang berani banget. Suka sama seseorang yang feedback-nya ke gue agak miris. Homo-homo yang lagi baca kalimat sebelumnya pasti pada ngetawain gue, lalu mengucapkan sebuah nasihat, "Udah lah, Ren. Jadi homo aja lo kayak gue! Bhuakakakak!" lalu tenggorokan tersedak batu akik yang gak pernah digosok. Tapi makasih buat tawarannya, gue mau hidup normal dan semestinya.
Otak selalu gue isi dengan pikiran positif. Biasanya gue suka sekali berpikir negatif pada seseorang. Mungkin ada beberapa pembaca blog ini yang mengetahuinya.
 
“Ini kalo di-BBM, gue udah di-read doang nih,” gue berbicara kepada Opek, teman sekelas dan teman dalam berorganisasi di kampus. Gue ngomong begitu di depan Siska, karena gue di-cuekin ketika lagi bertanya dan sibuk meladeni yang lain. Gue juga salah, suara gue juga gak kedengeran di kuping dia. Mendengar pernyataan gue, sontak Siska langsung menjawab, “Ih, enggak. Itu lagi sibuk tau. Makanya cuma di-read.”
 
Berulang kali ketika gue curhat ke Aqil, selalu bilang, “Mungkin dia lagi sibuk, Ren. Berpikir positif lah.” Kali ini lo benar, Qil. Sifat berpikir negatif gue emang harus dihilangkan. Sifat yang masih terbawa dari Paskibra di SMA. Sifat yang digunakan ketika membentuk pertahanan diri.

Teringat kembali keluhan dari teman gue, Arip yang dulu suka banget ngeluh soal kuliah menjadi anak DKV. Dan belum lama ini, temen gue, Bimo juga mengatakan hal yang sama.
“Tapi karena ini passion gue, ya gue have fun aja ngejalaninnya, Ren,” kata Bimo sambil men-copy-kan serial Kamen Rider Gaim ke laptop putih gue.

Gue juga sering melihat keluhan dari Siska di akun jejaring sosialnya. Dan tetap berusaha untuk memotivasi dirinya sendiri. Memang gak salah gue menyukai dirinya.

Melihat orang yang gue sukai seperti itu, gue gak bisa cuma diam dan hanya menyimak kehidupannya. Gue memberikan saran-saran buat dia. Entah dibaca atau enggak. Selain itu juga mengirimkan SEMANGAT!!!!! setiap hari ke BBM-nya dia. Hanya karena gue gak mau melihat orang yang gue sayang jatuh dalam keterpurukan.

“Gue ini orangnya introvert, Ren,” aku Siska ketika sedang mengobrol dengan gue. Buat yang belum tau, introvert itu.. bentar ya gue gugling dulu.. hahaha
Menurut situs Psikologid.com, Introvert itu..
Manusia dengan kepribadian introvert cenderung menutup diri dari dunia luar. Tipe ini lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk kegiatan soliter, seperti membaca, menulis, menggunakan komputer, serta lebih menyukai berada dalam kesunyian atau tempat tenang. Mereka analitis sebelum berbicara, merasa kurang nyaman karena terlalu banyak pertemuan dan keterlibatan sosial,  lebih senang bekerja sendirian, serta lebih suka berinteraksi secara 1 on 1 interaction. Keunggulan dari tipe kepribadian ini adalah mereka berpikir dulu sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, mereka adalah pendengar yang baik, dan bersikap analitis.
Gak masalah buat gue, mau dia introvert atau enggak, karena itu juga karunia dari Allah. Kalo gue diijinkan untuk menjaganya, gue pasti jaga dia baik-baik sampai pada saatnya gue akan menikahinya dan menafkahinya.

Entah ini bisa disebut progress atau bukan. Maka akan gue ceritakan dari awal bagaimana gue berusaha mendekatinya. 

Thursday, 15 October 2015

Setelah Lulus dari Universitas Indraprasta PGRI, Mau Ngapain?

Orang tua sangat menginginkan saya kuliah setelah lulus SMA. Salah satu alasannya, karena orang tua saya tidak kuliah lulus dari SMK langsung bekerja. Jadi, pastinya orang tua mengusahakan saya untuk bisa berkuliah. Tentu, tanpa dipaksa pun saya juga mau berkuliah.

“Rendy, kamu harus kuliah. Jangan kayak Mama dan Papa yang tidak berkuliah. Nanti pas udah kuliah, kuliahnya harus yang bener,” kata Mama sambil mengusap rambut saya.

Dari kecil, saya gemar sekali menggambar, membaca, dan menulis. Dari kecil sudah disediakan satu ruang khusus di dalam lemari untuk menaruh buku-buku cerita dengan gambar yang tidak bewarna. Ada komik, novel – iya dari kecil juga udah suka baca novel, dan buku-buku lainnya. Apalagi ketika SD itu sangat diwajibkan untuk meminjam buku dari perpustakaan dari hari Jum’at. Itu membuat saya senang sekali.

Waktu saya kecil – tentunya sampai sekarang tubuh saya masih kecil, suka sekali menggambar. Walau kebanyakkan gambar saya adalah hasil meniru dari gambar yang sudah ada, tapi tetap teman-teman saya banyak yang memuji. Terutama gambar Kapten Tsubasa – tokoh kartun dari Jepang yang membuat sepakbola menjadi temannya.

Selain itu juga suka sekali membuat gravity – tulisan yang dibentuk sedemikian rupa menjadi suatu yang berseni. Banyak juga yang suka dengan gravity buatan saya, hingga suatu ketika..

“Ren, bikinin gue gravity dong. Nanti gue bayar 3 ribu deh,” teman saya yang dikenal dengan kekayaannya meminta saya untuk membuat gravity. Tentu saya tidak menolaknya, dan tiga ribu rupiah adalah suatu angka yang sangat banyak buat saya. Karena ketika saya SD, Cuma diberikan uang saku lima ratus sampai seribu rupiah saja. Itu sudah membuat perut saya kenyang dengan membeli gorengan dan chiki chuba.

Akhirnya saya pun membuka jasa membuat gravity. Pemasukan setiap harinya bisa sampai sepuluh ribu rupiah. Ya, walau pun ada teman saya yang marah-marah dan tidak mau membayar gravity yang sudah saya buat atas permintaannya sendiri. Padahal sudah jelas, saya beritahu, jika mau dibuatkan gravity, itu harus membayarnya dengan lima ribu rupiah. Untung saja banyak teman-teman yang membela saya.

Selain menggambar, saya juga suka menulis. Ketika SMP, ketika kenaikan ke kelas dua, saya mulai menulis di blog pribadi saya. Sampai sekarang saya masih suka menulis di blog tersebut. Banyak pengalaman hidup saya yang ditulis di sana. Dan yang sedang saya tulis ini sepertinya juga saya akan taruh di blog itu.

Lanjut ke SMA, saya mulai menulis buku – meski sekarang sedang berhenti dengan alasan writersblock. Namun saya masih terus menulis cerita-cerita pendek dan mengikutsertakan ke dalam kompetisi. Herannya, saya selalu mengikuti kompetisi yang royalti dari buku yang diterbitkan nanti seluruhnya akan disumbangkan kepada panti asuhan. Dan sudah ada enam buku yang sudah diterbitkan, tentu, di dalamnya tidak hanya ada cerita saya, cerita yang ditulis penulis lain juga ada. Salah satu cerita di buku yang sudah diterbitkan itu, ada tulisan saya berkolaborasi dengan teman semasa saya kecil.

Lulus SMA, saya mulai berkuliah di Universitas Indraprasta PGRI. Universitas yang ditemukan orang tua saya di Google. Dan ketika itu juga Mama juga sudah lancar browsing di Google. Didaftarkanlah saya di sana. Progam studi yang saya pilih: Teknik Informatika. Sekarang juga sudah semester lima di sana, tinggal beberapa semester lagi sudah lulus – mohon di-amin-kan.

Jika ditanya, lulus dari Universitas Indraprasta PGRI, mau ngapain? 

Sunday, 4 October 2015

Gak Bisa Tidur.


Gak bisa tidur.
Malam ini gak bisa tidur.
Entah apa yang sedang dipikirkan.


Gak bisa tidur.
Ada pikiran ketika tidur.
Rasa campur aduk yang timbul di dada.


Ingin ku lepas semua.
Perasaan yang selama ini ditahan.
Gelisah selalu menghampiri.
Ingin ku ungkapkan semua padanya.


Ini bukan puisi.
Melainkan kegelisahan hati.


Jangan dipuji.
Karena ini hanya ungkapan hati.


Touch my heart.

Melihat betapa seriusnya dia membaca, rasanya pengin cubit pipinya



Melihat betapa sibuknya dia dengan gadget, rasanya pengin mengambil gadget-nya hingga dia menengok kepada gue



Kedua foto di atas diambil secara diam-diam dengan kamera smartphone gue. Tanpa dia sadari.
Dan tanpa dia sadari, ada seseorang yang menyukainya, mengaguminya, dan menyayanginya.
Semoga semangat selalu ada untuk dia -- orang yang gue sayangi -- Siska. Andzani.




Foto ini entah siapa yang memotret. Pas cek kamera digital gue, udah ada foto ini.
 

#FOLLOWERS