#SUBSCRIBE

Thursday, 15 October 2015

Setelah Lulus dari Universitas Indraprasta PGRI, Mau Ngapain?

Orang tua sangat menginginkan saya kuliah setelah lulus SMA. Salah satu alasannya, karena orang tua saya tidak kuliah lulus dari SMK langsung bekerja. Jadi, pastinya orang tua mengusahakan saya untuk bisa berkuliah. Tentu, tanpa dipaksa pun saya juga mau berkuliah.

“Rendy, kamu harus kuliah. Jangan kayak Mama dan Papa yang tidak berkuliah. Nanti pas udah kuliah, kuliahnya harus yang bener,” kata Mama sambil mengusap rambut saya.

Dari kecil, saya gemar sekali menggambar, membaca, dan menulis. Dari kecil sudah disediakan satu ruang khusus di dalam lemari untuk menaruh buku-buku cerita dengan gambar yang tidak bewarna. Ada komik, novel – iya dari kecil juga udah suka baca novel, dan buku-buku lainnya. Apalagi ketika SD itu sangat diwajibkan untuk meminjam buku dari perpustakaan dari hari Jum’at. Itu membuat saya senang sekali.

Waktu saya kecil – tentunya sampai sekarang tubuh saya masih kecil, suka sekali menggambar. Walau kebanyakkan gambar saya adalah hasil meniru dari gambar yang sudah ada, tapi tetap teman-teman saya banyak yang memuji. Terutama gambar Kapten Tsubasa – tokoh kartun dari Jepang yang membuat sepakbola menjadi temannya.

Selain itu juga suka sekali membuat gravity – tulisan yang dibentuk sedemikian rupa menjadi suatu yang berseni. Banyak juga yang suka dengan gravity buatan saya, hingga suatu ketika..

“Ren, bikinin gue gravity dong. Nanti gue bayar 3 ribu deh,” teman saya yang dikenal dengan kekayaannya meminta saya untuk membuat gravity. Tentu saya tidak menolaknya, dan tiga ribu rupiah adalah suatu angka yang sangat banyak buat saya. Karena ketika saya SD, Cuma diberikan uang saku lima ratus sampai seribu rupiah saja. Itu sudah membuat perut saya kenyang dengan membeli gorengan dan chiki chuba.

Akhirnya saya pun membuka jasa membuat gravity. Pemasukan setiap harinya bisa sampai sepuluh ribu rupiah. Ya, walau pun ada teman saya yang marah-marah dan tidak mau membayar gravity yang sudah saya buat atas permintaannya sendiri. Padahal sudah jelas, saya beritahu, jika mau dibuatkan gravity, itu harus membayarnya dengan lima ribu rupiah. Untung saja banyak teman-teman yang membela saya.

Selain menggambar, saya juga suka menulis. Ketika SMP, ketika kenaikan ke kelas dua, saya mulai menulis di blog pribadi saya. Sampai sekarang saya masih suka menulis di blog tersebut. Banyak pengalaman hidup saya yang ditulis di sana. Dan yang sedang saya tulis ini sepertinya juga saya akan taruh di blog itu.

Lanjut ke SMA, saya mulai menulis buku – meski sekarang sedang berhenti dengan alasan writersblock. Namun saya masih terus menulis cerita-cerita pendek dan mengikutsertakan ke dalam kompetisi. Herannya, saya selalu mengikuti kompetisi yang royalti dari buku yang diterbitkan nanti seluruhnya akan disumbangkan kepada panti asuhan. Dan sudah ada enam buku yang sudah diterbitkan, tentu, di dalamnya tidak hanya ada cerita saya, cerita yang ditulis penulis lain juga ada. Salah satu cerita di buku yang sudah diterbitkan itu, ada tulisan saya berkolaborasi dengan teman semasa saya kecil.

Lulus SMA, saya mulai berkuliah di Universitas Indraprasta PGRI. Universitas yang ditemukan orang tua saya di Google. Dan ketika itu juga Mama juga sudah lancar browsing di Google. Didaftarkanlah saya di sana. Progam studi yang saya pilih: Teknik Informatika. Sekarang juga sudah semester lima di sana, tinggal beberapa semester lagi sudah lulus – mohon di-amin-kan.

Jika ditanya, lulus dari Universitas Indraprasta PGRI, mau ngapain? 
 
Tentu saya akan menjawab mau kerja. Tanpa dipaksa kerja, saya sudah pasti mau bekerja. Kemudian menata masa depan yang lebih baik lagi dan melihat orang tua bangga telah melahirkan dan mendidik saya.

Setelah lulus, saya mau bekerja apa saja yang menurut saya bisa meningkatkan modal saya untuk berwirausaha. Sambil saya bekerja, saya juga kembali melanjutkan buku yang saya tulis, kembali membuat jasa yang berhubungan dengan gambar, dan membaca keadaan negeri ini setiap harinya.

Modal yang saya kumpulkan nantinya untuk usaha distro online. Usaha yang saya inginkan sejak saya suka menggambar. Desainnya nanti saya yang buat sendiri, dan konveksinya saya mau mengajak teman saya yang memang bekerja pada konveksi kaos. Dengan membaca keadaan negeri ini setiap harinya, tentu saya akan mempelajari keadaan pasar dan mengaplikasikannya ke dalam distro online saya.

Kenapa hanya sebatas online? Karena semua modal saya masukan semua ke dalam biaya produksi kaos. Keuntungan dari penjualan distro online nantinya saya sisakan sebagian untuk membeli toko yang nantinya menjadi tempat tetap saya dalam usaha distro. Toko distro tersebut nantinya saya buka pada tempat yang strategis dan memang kawasan anak muda berkumpul. Nantinya tidak hanya kaos saja yang saya jual, tapi tas, kemeja, celana, sepatu dan yang lainnya juga ada di dalam distro yang saya kelola. Dan tidak lupa memiliki dua orang karyawan dulu sebagai permulaan membuka toko distro ini.

Membuka usaha distro ini tentu saya sambil memperbanyak teman, karena saya hidup di dunia ini tidak ingin sendirian. Semua makhluk hidup pasti membutuhkan teman. Kemudian saya pastinya ingin bertukar pikiran dengan teman-teman lainnya untuk memperluas jaringan usaha saya.

Saya ini orangnya selalu ingin tahu – dalam bahasa gaulnya itu kepo – apa yang orang lain sedang kerjakan dan pengalaman orang lain. Jika ada teman-teman saya yang telah menjadi seorang pebisnis, tentu saya pasti akan lebih banyak bertanya, mungkin sampai teman saya lelah menjawab semua pertanyaan saya.

Mempunyai dua orang karyawan, tidak membuat saya untuk berhenti bekerja. Saya mau mencari kerja sambilan lagi, kerja apa saja, untuk mengumpulkan modal kembali. Nantinya saya mau membuka perusahaan IT. Ilmu yang saya pelajari selama kuliah di Universitas Indraprasta PGRI, tentu tidak mau saya sia-sia kan begitu saja.

Kerja sambilan tidak membuat saya lupa dengan toko distro saya. Setiap harinya pasti saya cek ketika lagi ada jam yang kosong. Untuk menghindari adanya kecurangan yang karyawan saya lakukan, saya tidak mau adanya jarak seperti bos dengan bawahan, tapi lebih seperti teman. Memberikan mereka waktu untuk bersama dengan keluarga tercinta juga pasti saya berikan.

Jika nanti ada menurunnya angka pembelian di distro saya, akan dilakukan inovasi baru setiap bulannya sesuai keadaan pasar. Seperti buy three get one, atau beli baju dapet tiket diskon di toko distro saya jika nominal yang dibeli itu mencapai dua ratus ribu rupiah. Atau bisa juga saya membuka kompetisi dance dengan distro saya sebagai sponsornya.

Menjalin kemitraan dengan berbagai bidang usaha juga saya akan dilakukan. Bermitra dengan JNE misalnya, untunk soal pengiriman barang. Atau bermitra dengan sebuah grup musik terkenal di Indonesia. Penginnya sih, anggota dari JKT48 bisa memakai baju dari distro saya.

Tren Jepang dan Korea memang sedang banyak digrandrungi oleh pemuda dan pemudi di Indonesia. Jika kedepannya itu masih tetap menjadi tren, saya berusaha memaksimalkan usaha distro saya dengan mengikuti tren desain yang ada di Jepang dan Korea untuk memenuhi kebutuhan pasar. Bermitra dengan distro di Jepang dan Korea juga pasti saya lakukan. Karena pastinya pembeli di distro saya, tidak ingin hanya orang Indonesia yang membelinya. Kenapa Jepang dan Korea? Karena saya bisa berbahasa Jepang – walau tidak lancar – dan mengerti sedikit dengan bahasa Korea.

Sebelum membuat perusahaan IT. Terlebih dahulu saya ingin membuka usaha di bidang IT. Modal didapat dari usaha distro dan kerja sambilan, nantinya akan saya pakai untuk perlengkapan IT. Pada usaha IT ini, saya membuka jasa service, menjual aksesoris IT, jual-beli komputer/laptop, jasa nge-print, selain itu di dalam usaha IT saya juga ada mesin fotokopi untuk siapa saja yang ingin fotokopi. Mungkin ini menjadi lebih seperti tempat elektronik bercampur dengan tempat fotokopi. Namanya juga usaha. Usaha gak usah banyak mikir, yang penting action, seperti kata almarhum Bob Sadino.

Minimal saya harus punya dua orang karyawan di usaha IT saya sama seperti pada usaha distro saya. Dengan ini berarti saya sudah menghidupi empat orang karyawan. Dua orang karyawan pada usaha IT saya yang memang mengerti urusan IT. Misalkan tidak banyak mengerti soal IT, tidak apa-apa asal ada niat untuk belajar. Karena nantinya akan saya ajarkan tentang IT kepada dua orang karyawan saya.

Hasil dari usaha distro, kerja sambilan, dan usaha IT sebagian akan saya tanamkan sebagai modal utama untuk membuka perusahaan IT nanti. Lagi-lagi saya memang membutuhkan teman. Memulai perusahaan IT ini saya membutuhkan teman. Mulai menghubungi kembali teman-teman saya yang memang mengerti dan ahli pada bidang IT. Tidak hanya yang ahli dibidang IT saja yang dihubungi, teman-teman saya yang jago sekali berbicara di depan khalayak umum juga akan saya ajak untuk bergabung dengan perusahaan IT saya.

Dan untungnya saya sudah terbiasa untuk public speaking. Saya mulai melatihnya ketika saya ikut paskibra di SMA, hingga terpilihnya saya menjadi Wakil Ketua Paskibra. Selain itu saya juga menjadi Humas pada ekskul Japanese Club di SMA. Tidak hanya sampai di sana, saya di Universitas Indraprasta PGRI juga mengikuti sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang bernama Japanese Zone. Di unit kegiatan tersebut, saya dipilih menjadi Ketua, dan itu membuat terus mengasa kemampuan public speaking saya. Nantinya saya akan memaksimalkan public speakiang saya ini di depan perusahaan-perusahaan IT lainnya agar mau menanamkan sahamnya pada perusahaan yang akan saya bentuk nanti.

Jika hanya sedikit teman saya yang mau bergabung, niat harus tetap saya jalankan. Apa pun resiko yang terjadi, tetap saya jalankan. Ketika sudah dijalankan, pastinya nanti akan terus berpikir bagaimana perusahaan ini agar terus tetap stabil dan meningkat. Apa pun perkataan orang, saya dengarkan. Saring semua perkataan yang baik saja, tanpa melupakan yang buruk. Karena dibalik keburukan, pasti ada kebaikan.

Memulai perusahaan IT di dalam rumah saya. Mengubah kamar saya menjadi tempat kerja yang nyaman untuk para teman-teman saya yang sudah mau bergabung dengan perusahaan saya. Berisikan lima buah PC, dan beberapa hub untuk menyambungkan antar PC. Yang nantinya kami akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Memulainya dengan membuat sebuah game untuk anak berusia 5 – 7 tahun. Game yang dibuat sederhana untuk dimainkan dan membuat otak kanan dari seorang anak bekerja seara aktif dibandingkan otak kirinya. Nantinya akan di jual secara gratis pada PlayStore atau toko-toko online lainnya.

Kenapa harus gratis? Untuk promosi, dan di dalam game tersebut juga diselipkan iklan-iklan sebagai pemasukan untuk kami. Jika angka pengunduhan game terssebut sangat banyak dan terus meningkat, saya mulai mencari sponsor untuk game tersebut. Bila ada sponsor, game tersebut akan di-update menjadi 2.0 dengan tambahan fitur-fitur dan storyline yang lebih bagus dan lebih menarik.

Jika game tersebut tidak sesuai dengan harapan, tentu kita tidak boleh langsung menyerah begitu saja. Cari inovasi baru, pelajari dari game-game lain yang telah sukses. Menerapkan sistem ATM, Amati Tiru dan Modifikasi. Karena karya tidak ada yang sebenarnya asli, pasti terinspirasi juga dengan karya lain.

Setelah membuat game sederhana untuk anak 5 -7 tahun, saya dan teman-teman akan membuat kembali game sederhana yang menarik untuk semua umur dengan tipe ber-level. Dengan level satu sengaja dibuat langsung sedikit susah dan membuat orang berpikir, “Ini game apa? Kok susah?” Dan bila ada yang lolos level satu, akan diberikan kode level satu, bila nanti gagal pada level dua. Jadi tidak kembali lagi pada level satu, langsung kembali ke level dua. Biar banyak pengunduhnya, saya kasih judul game ini: Susah Susah Gampang 1.0, tiap enam bulan sekali nanti akan ada pembaharuannya.

Mengulang siklus pada game pertama, saya akan mencari sponsor untuk game kedua yang telah kami buat. Menamainya dengan judul: Susah Susah Gampang Lagi Gak Ya 2.0, sengaja untuk game kedua ini diberikan judul yang lucu. Membuat pada viewers penasaran karena judulnya saja.

Selain game, saya berniat untuk membuat sebuah aplikasi personal file. Saya fokuskan ke kota Jakarta terlebih dahulu. Semacam data-data sensus dijadikan satu ke dalam sebuah database. Sebelumnya saya akan membuat proposal dari aplikasi tersebut untuk di persentasikan di depan Gubernur DKI Jakarta. Kenapa saya memilih Jakarta? Yang pertama, DKI Jakarta adalah ibukota negara, dan yang kedua, saya lahir di Jakarta. Saya mau Jakarta menjadi lebih baik di setiap tahunnya.

Pada aplikasi personal file, warga kota Jakarta dapat menyimpan data data pribadinya secara rahasia. Di aplikasi tersebut juga disediakan kotak pencarian untuk mencari orang lain. Ketika di-klik pada nama orang yang dicari, yang terlihat hanya nama dan alamatnya saja. Berhubung aplikasi personal file ini sangat rahasia, tentunya kami akan mencari mitra dari perusahaan IT yang bergerak pada bidang keamanan untuk menjaga data-data yang telah di-upload.

Kegunaan dari personal file ini sangat membantu jika ternyata kita terkena musibah seperti kebakaran, banjir, dan musibah lainnya. Karena pada saat terkena musibah, sebagian data-data kita pasti ada yang tidak dapat diselamatkan. Namun jika sudah di-upload pada aplikasi personal file, dengan mudahnya kita menyelamatkan data-data selama kita hidup. Pastinya sangat membantu sekali.

Bila proyek personal file tersebut sukses, sebagian keuntungan saya akan sumbangkan kepada panti asuhan atau kepada yang berhak. Karena sudah seharusnya bila usaha kita sukses, kita harus banyak beramal. Tentunya hasil pendapatan dari perusahaan IT akan digunakan untuk membeli sebuah lantai pada sebuah gedung. Semakin sukses, satu gedung pasti akan dibeli.

Setelah sukses dengan game yang kedua, minimal saya harus mempunyai 20 orang karyawan. Bila dihitung total karyawan dari usaha saya yang lain, berarti sudah ada 24 orang karyawan yang sudah saya hidupi kebutuhan hidupnnya. Rencananya pada usaha distro dan usaha IT mau ditambahkan delapan orang karyawan pada masing-masing usaha. Berarti total menjadi 40 orang karyawan yang sudah saya hidupi kebutuhan hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, saya mau membuka cabang distro saya di kota lain: Bandung. Bandung sebagai tempat kedua untuk memulai cabang dari distro saya. Alasan utama karena jarak untuk distribusi yang dekat, Jakarta – Bandung. Jadi uang yang dikeluarkan tidak terlalu banyak untuk mengantarkan barang. Dan juga saya menilai Bandung sudah menjadi kota yang modern. Bisa saya bilang kalau Bandung seperti ibukota kedua dari Indonesia ini.

Seperti halnya usaha distro, usaha IT juga akan saya buka cabangnya. Tetapi bukan di Bandung, Masih di daerah Jakarta. Karena saya ingin menguasai Jakarta terlebih dahulu untuk urusan IT. Masyarakat kota Jakarta yang semuanya pasti bergantung dengan IT, harus dengan cermat dimanfaat dan dan dipenuhi kebutuhan IT-nya. Di setiap jarak dan di sudut ibukota ini, semuanya sudah pasti bergantung sekali dengan IT.

Usaha IT saya ini tidak ingin hanya berdiam diri di tempat saja. Untuk jual-belinya, saya ingin membuat online shop-nya sama seperti usaha distro saya. Semua orang di Indonesia dapat membeli semua produk IT melalui online shop saya. Semua barang pasti bergaransi. Tentunya, kami juga bermitra dengan jasa antar barang.

Tentu saya tidak melupakan dengan hobi saya menggambar, menulis, dan membaca. Sambil saya menjalankan ketiganya, saya melanjutkan untuk menulis buku. Dan berniat juga untuk membuat komik untuk mempromosikan semua usaha saya. Komik yang dibuat untuk semua kalangan.

Dari dulu saya ingin sekali membuat komik. Komik yang membuat orang jadi ketawa-ketawa sendiri setelah pulang dari aktivitasnya menjadi lebih rileks dan siap kembali untuk memulai aktivitasnya esok hari. Bapak-bapak yang setelah pulang membanting tulang jadi terhibur, ibu-ibu yang tiap harinya mengurusi rumah bisa jadi rileks, anak-anak yang baru pulang sekolah jadi gak stress dengan pelajaran di sekolahnya. Membuat komik yang saya buat menjadi bermanfaat.

Nah, komik ini nantinya bila sukses, akan saya buatkan game-nya, dan semua orang bisa mengunduhnya secara gratis. Tentu game yang saya buat ini mempunyai storyline yang sangat lucu dan mengelitik sebagai hiburan dikala jenuh dan lelah. Membuat orang menjadi..

“HAHAHAHA,” ini ketika orang normal tertawa.

“HIHIHIHIHI,” ini ketika hantu tertawa.

“WKWKWKWK,” ini ketika orang yang dimulutnya penuh air liur tertawa

“55555555555,” ini ketika orang Thailand tertawa.

“WWWWWW,” ini ketika orang Jepang tertawa.

“LOL! ROTFL! LMFAO!” dan ini ketika anak gaul – termasuk cabe-cabean tertawa.

Kenapa saya ingin membuat orang tertawa dengan hasil karya saya? Karena saya ingin orang Indonesia awet muda. Lagi- lagi saya ingin apa yang telah saya buat menjadi bermanfaat untuk orang lain.

Rasanya saya kurang puas jika tidak membuka kafe. Bilan keuntungan dari semua usaha saya semakin banyak, saya pasti akan membuka kafe. Membuat inovasi baru dari kafe tersebut. Kafe Toku namanya. Toku sendiri saya ambil dari kata Tokusatsu. Tokusatsu (特撮) adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk efek spesial (efek khusus / efek visual) dan seringkali digunakan untuk menyebut film sci-fi/fantasi/horor live-action produksi Jepang. Satria Baja Hitam dan Power Ranger sebagai contoh dari Tokusatsu itu sendiri.

Jadi pengunjung yang datang ke kafe sudah disambut oleh Megazord – robot raksasa – milik Power Ranger. Masuk ke dalam kafenya saja sudah banyak efek-efek visualnya. Membuat pengunjung kafe menjadi lebih terasa seperti di film. Dengan menu-menu dari Sabang sampai Merauke yang disajikan oleh kafe saya.

Di dalam kafe nantinya pengunjung juga dapat memainkan secara gratis game yang telah di produksi oleh perusahaan IT saya. Selain itu juga ada ruang dimana hasil produksi distro saya dijual. Kafe Toku juga akan saya buat senyaman mungkin untuk para komunitas berkopi darat.

Selain itu akan banyak event-event yang saya adakan di kafe tersebut. Mencari-cari banyak sponsor untuk setiap event yang saya adakan. Tentu tujuan utama saya untuk mempromosikan lebih untuk semua usaha-usaha saya. Dan meningkatkan konsumen di semua kalangan.

Menawarkan banyak promo pada kafe tersebut, seperti beli ini dapat diskon untuk membeli game saya atau untuk membeli barang pada distro dan usaha IT saya. Akan banyak inovasi-inovasi yang saya berikan mengikuti kebutuhan pasar dalam jangka panjang mau pun jangka pendek.

Kursi dan meja kafe akan didesain sedemikian rupa mirip dengan kursi di film-film berunsur Tokusatsu. Menjadikan pengunjung jadi lebih banyak foto-foto dan di-upload ke sosial media. Membuat usaha saya secara tidak langsung terpromosikan ke sejumlah orang, individu ke individu lainnya.

Untuk mempromosikan lebih kafe tersebut, dari perusahaan IT saya, akan membuat sebuah game bertemakan kafe. Tentu judul game tersebut adalah Kafe Toku: Special Service 1.0. Pada game tersebut, para pemain disuguhkan dengan interface yang mudah dimengerti dan semirip mungkin dengan kafe di kenyataan.

Setiap minggunya para pemain game Kafe Toku: Special Service 1.0 akan diberikan item-item gratis pada game itu. Kali ini Game dapat digunakan hanya pada keadaan online. Membuat antar pemain untuk saling bersaing dalam score. Dan mendapatkan badge sesuai quest-quest yang sudah diberikan.

Selain game itu, ingin sekali saya membuat sosial media untuk jomlo di Indonesia. Saya ingin meneruskan proyek E-Move. Sebuah sosial media untuk para orang yang tidak dapat berpindah hati, padahal yang dicintainya sama sekali tidak balik mencintainya.

Karena saya tau setiap orang butuh teman. Dan saya juga butuh teman. Teman hidup yang nantinya akan menemani saya selama saya masih hidup dan disisa hidup saya. Teman yang mau memberikan cintanya untuk saya.

Senang sekali rasanya jika karya saya bermanfaat bagi semua orang. Proyek E-Move dibuat tentu pastinya akan bermanfaat, karena tidak ada yang tidak bermanfaat di dunia ini. Orang yang jomlo sudah sepuluh tahun juga dapat bertemu jodohnya pada sosial media ini. Mencari pasangan tidak repot-repot lagi.

Masih sambil menulis buku juga, tentu draft buku akan saya kirimkan ke beberapa penerbit yang membutuhkan konten tulisan yang seperti saya tulis. Saya menulis komedi, tentu penerbit utama yang akan saya datangi itu Bukune, penerbit yang kantornya ada di daerah Jagakarsa.

Melakukan semuanya, tentu saya tidak lupa untuk mencari pasangan hidup. Mungkin setelah lulus nanti saya akan menjadi super sibuk. Melebihi kesibukan saya ketika kuliah. Tetapi saya tidak akan lupa untuk mencari cinta saya. Yang nantinya akan saya bahagiakan dan saya tuntun untuk lebih dekat lagi kepada Yang Maha Kuasa. Dan satu lagi, pastinya karyawan saya akan lebih dari 40 orang.

Kira-kira seperti itu rencana saya kedepannya ketika saya lulus dari Universitas Indraprasta PGRI. Jadi, mohon doa dan dukungannya ya, bagi siapa pun yang membaca tulisan saya ini. Terima kasih.


Tulisan ini sebenarnya tugas dari mata kuliah Kewirausahaan. Karena sudah nulis sampai 10 lembar, kenapa gak di-post di blog juga? Hahaha 
Gue yakin, pasti akan ada yang menjiplak karya gue. Hahaha

1 comment:

Buat yang gak punya akun BLOG, masih tetep bisa komen disini. Caranya: pilih Name/URL -> tulis nama dan alamat twitter atau facebook. Selain itu juga bisa pilih Anonymous.

Jadi, MARI BUDAYAKAN BERKOMENTAR!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

DON'T FORGET TO SUBSCRIBE MY YOUTUBE CHANNEL GAES!